Di tengah maraknya gelombang protes terhadap aliran Al Qiyadah Al-islamiyah hampir di seluruh daerah di Indonesia, dari Kota Padang terdapat tiga pengikut aliran tersebut yang tobat. Mereka kembali disyahadatkan oleh pengurus Ormas Islam, di Masjid Al Wusta Padang.
Dari pengakuan mereka terungkap, semula tidak mengetahui telah mendatangkan penceramah dari anggota Al Qiyadah Al Islamiyah. Karena pada awalnya, ceramah-ceramah yang diberikan hanya berisikan hal-hal yang bersifat umum dan bersumber dari Al Quran dan hadist.
Belajar dari kasus aliran sesat Al Qiyadah Al-Islamiyah, banyak hal sebenarnya yang bisa kita petik. Pertama, begitu mudahnya umat Islam di Sumbar terpengaruh oleh berbagai aliran sesat. Tidak hanya Al Qiyadah, sudah cukup banyak aliran-aliran sesat yang masuk ke Ranah Minang, dan mampu menggaet pengikut yang cukup besar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa mulai terjadi pendangkalan akidah di kalangan masyarakat kita. Kenapa itu terjadi ? Barangkali tidak terlepas dari mulai jauhnya umat dari syiar agama.
Bila mencermati kehidupan masyarakat di perkotaan, kita bisa menyaksikan nyaris tak ada waktu lagi yang tersisa bagi umat Muslim untuk mendalami ilmu agama. Sementara peran surau dan masjid, juga berkurang.
Kondisi ini juga terjadi dari kalangan generasi muda.. Pendidikan agama yang mereka peroleh di sekolah-sekolah umum, waktunya sangat terbatas. Bahkan, di rumah/ tempat tinggal mereka nyaris tak memilliki berkesempatan untuk mendalami agama, terkecuali selama bulan Ramadhan.
Akibat dangkalnya pemahaman agama, menyebabkan akidah umat rapuh. Bahkan, tak hanya aliran sesat yang mudah memerngaruhi, tapi juga permurtadan. Tak heran bila saat ini, misi zending begitu mudah masuk ke daerah kita.
Selain pendangkalan pemahaman agama, umat Islam saat ini sepertinya mulai terjebak pada simbol-simbol. Orang dianggap shaleh kalau ia terlihat memakai simbol-simbol agama. Bahkan, dengan mudah orang memanggil buya atau ustadz, terhadap mereka yang jebolan sekolah agama.
Hal seperti inilah kemudian yang membuat masyarakat kita mudah terjebak dalam pengaruh-pengaruh aliran sesat.
Melihat kondisi seperti itu, umat Muslim di Ranah Minang mesti mengevaluasi diri. Kita semua harus berupaya memperkuat basis pemahaman agama. Hal ini setidaknya harus dimulai dari anak-anak kita. Bekali mereka dengan pemahaman tauhid dan syariat yang kuat, sehingga tidak mudah terobambang-ambing dalam berbagai bujuk rayu aliran sesat dan permurtadan. Jam pelajaran agama di sekolah-sekolah umum juga mesti ditambah, di samping memperkuat peran surau/masjid sebagai basis pembinaan umat. Surau dan masjid yang hanya ramai di waktu bulan suci Ramadhan, harus kembali disemarakkan dengan syiar Islam dan tempat menempa basis agama. Akhirnya, kita berharap di Ranah Minang kembali lahir ulama-ulama terkemuka, seperti yang pernah tercatat dalam sejarah. (*)
Dimuat di Tajuk Padang Ekspres November 2007

0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.