Kerja Cerdas Kunci Sukses

Rumah Kayu Bercat Hijau

Juni 24, 2008 · & Komentar

Karikatur

Sumber;http://www.armadahotel.com.tr/i/haber/karikatur.jpg

 

 

Frank memasuki bekas kantornya. Tak satupun karyawan ada di sana. Ia berjalan ke arah kursi tamu. Pantatnya dihenyakkan, menduduki kursi yang mulai lusuh karena merana dihantam berbagai bentuk bokong yang kadang tak  bersahabat. Matanya memandang ke arah seberang jalan, menerobos cermin kantor yang  berdebu akibat jarang dibersihkan.

 

Sebuah ruko megah berdiri di seberang jalan. Meski pandangan Frank ke arah ruko, namun fikirannya melayang, mengenang masa lalunya tepatnya  14 tahun silam, kala pertama ia menginjakkan kaki di kota ini. Ia teringat sebuah rumah kayu bercat hijau, tepat di ruko sekarang. Seorang gadis lincah, berkulit putih bersih menari-nari di lantai dua, rumah kayu itu.

Hari itu, Frank persis duduk di kursi yang didudukinya saat ini. Kala itu, sang gadis  melambaikan tangan ke arah Frank. Ia lalu membalas lambaiannya. Senyum manis mengembang  di balik bibir gadis itu.

Frank melangkah keluar kantor. Matanya seakan tak lepas dari gadis berambut sebahu itu. Ia menyeberangi jalan, memberanikan diri melangkah ke rumah itu. Sebuah kursi kayu terpajang di depan rumah, tepatnya di bawah pohon mangga.

“Nama saya Irma”! sang gadis memperkenalkan diri.

“Saya Frank, datang dari kampung. Hari ini merupakan hari pertama saya bekerja,” Frank, membalas.

Tiba-tiba seorang wanita paroh baya memanggil Irma.

“Irma, bawa temannya masuk. Kan tak enak di luar aja,” suara parau wanita itu, ramah.

“Masuk bang!”

“Maaf, saya di luar saja. Nanti bos memanggil,” Frank menolak halus. Ia tersipu malu, seraya melihat ke arah si perempuan paroh baya yang ternyata adalah ibu Irma.

“Anak, siapa?”

“Saya Frank Bu. Saya orang baru di sini. Untuk sementara saya tinggal di kantor.”

“Kalau butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan ya. Datang saja ke sini.”
”Baik, Bu”!

Wanita itu masuk ke dalam rumah, melewati teras rumah yang di sisi kanannya teronggok besi-besi tua. Di sebelah rumah itu terdapat sebuah penampungan besi tua, milik seorang pengusaha keturunan Tionghoa. Dengan hanya berbisnis tumpukan besi dan plastik bekas, para warga sipit itu menjadi kaya raya. Mereka membeli besi-besi dengan harga murah dari para pemulung dan “tukang raok”. Besi-besi itu mereka kirim dengan armada ekspedisi ke Jakarta untuk diolah kembali.

***

Pagi itu, Frank bangun shubuh sekali. Badannya terasa segar. Burung-burung piaraan milik warga keturunan di belakang kantornya, bernyanyi merdu, menambah keindahan pagi itu.

Frank alu menuruni tangga dari lantai dua kantornya. Dibukanya pintu kantor, dan memandang ke rumah kayu bercat hijau.

Irma, gadis yang mulai akrab dengan matanya tampak sudah bangun, dan sedang senam pagi bersama adik laki-lakinya. Si adik bernama Irwen. Ganteng dan berkulit bersih. Keluarga Irma berasal dari Pulau Telok, Nias, Sumatera Utara. Mereka sudah beranak pinak di kota ini, sejak ratusan tahun.

 Bagi Frank, persahabatan dengan keluarga Irma membuat hatinya bahagia. Orantua Irma sangat ramah menyambut Frank bila bertamu ke sana.

Benih-benih cinta mulai dirasakan Frank terhadap Irma. Namun, perasaan itu dipendamnya hingga tiga tahun, saat Irma baru saja menginjak kelas I SMA.

“Irma, apakah kamu sudah punya sahabat dekat”? Frank memberanikan diri, bertanya.

“Kalau sahabat dekat banyak. Tapi, kalau pacar yang abang maksud belum tuh”? jawabnya manja.

“Kapan kamu akan pacaran?”

“Ketika berumur 17 tahun bang?”

“Oh begitu!”

Frank tampak terdiam. Mereka lalu mengalihkan topik pembicaraan.

 

***

Sore itu, sepulang kuliah Frank langsung duduk di depan kantornya. Irma dan Wen sedang asyik bermain tepok bulu.

“Frank, jangan melamun terus. Tembak aja Irma!” Toni, sahabat satu kuliah Frank memprovokasi. Toni merupakan teman baik Frank. Nyaris tak ada rahasia antara mereka.

“Baik, nanti malam kan malam minggu. Aku akan ngapelin si Irma”

Azan Magrib terdengar memanggil umat Muslim untuk shalat. Tak jauh dari kantor Frank terdapat sebuah masjid megah. Masjid itu merupakan yang terbesar di kota ini.

Sehabis makan malam, detak jantung Frank berdegub kencang. Lidahnya mengulang-ulang kalimat yang akan disampaikannya pada Irma.  Hingga, kalimat itu diluncurkannya dengan terbata-bata, ketika bertandang ke rumah Irma.

“Ir, aku menyukaimu. Sudah lama aku menaruh hati padamu. Tepatnya, tiga tahun lalu sejak pertama kali datang ke kota ini.”

“Apa bang?”

“Aku mencintai mu”

“Ah, abang bercanda aja”

“Yang lain aja topiknya bang”!

Frank terhenyak. Pipinya memerah. Lidahnya kelu. Ia tak menyangka akan mendapatkan sikap seperti itu.

Ia lalu mencari-cari alasan untuk segera balik pulang. Langkahnya gontai. Matanya sulit terpejam ketika malamya.

Dua minggu sudah berlalu. Hati Frank panas. Ia ingin melampiaskan sakit hatinya pada Irma. Siang itu, ia duduk di dekat telepon umum di depan kantornya. Kakinya dijuntaikan. Seorang wanita cantik menenteng tas menelepon, tepat  di depannya. Gadis manis itu memiliki rambut sebahu.

“Menelepon siapa dik”!

“Kawan kuliah bang!” jawab sang gadis seraya tersenyum. Senyumnya teramat manis, menampakkan deretan giginya yang rapi.

“Dimana tinggal dik?”

“Di belakang bang!”

“Boleh saya antar?”

Gadis itu tak menjawab, namun tak pula menolak.

Frank mengikuti langkah kaki sang gadis.

“Abang tinggal dimana ?”

“Di kantor itu!”

Tanpa sepengetahuan Frank, sepasang mata mengawasinya dari lantai dua, rumah kayu bercat hijau. Bola mata tajam itu berkaca-kaca. Bulir-bulir air mata menetes dari balik mata bening itu.

Tiga minggu sudah Frank tak bertandang ke rumah Irma. Ia mulai sibuk menunggu Neni Dwi Tanti, gadis yang baru dikenalnya, sepulang kuliah. Di telepon umum, di seberang jalan rumah kayu bercat hijau, mereka selalu bertemu tiap sore. Di saat-saat itu pulalah, sepasang mata menghujamkan air mata dari ketinggian 5 meter ke atas tanah berpasir.

 

 

Minggu pagi, rumah kayu bercat hijau tak seperti biasanya. Teman-teman Irma berdatangan. Hari itu, hari ulang tahun ke-17 Irma. Hari itu ia tumbuh menjadi gadis remaja yang beranjak dewasa.

Frank dan sejumlah temannya juga datang ke pesta ulang tahun Irma. Namun, hubungan mereka tampak kaku. Meski ada ucapan selamat dari Frank, namun tak membuyarkan ketegangan antara mereka berdua. Sore itu, sepasang anak muda itu larut dalam fikiran masing-masing.

***

Esoknya, Frank bangun agak kesiangan. Dibukanya pintu depan kantor. Sebuah kertas putih menyembul di depan teras. Sebuah surat dengan amplop putih.

Jantungnya berdegub kencang tatkala membaca nama Irma di luar amplop.

Dengan segera dibukanya surat itu.

 

Abang Frank yang Terhormat

Pagi tadi, kami dan keluarga harus pergi

Kami pindah ke Balikpapan

Saya mohon pamit

Terimakasih atas persahabatan kita selama ini

Walau menyisakan perih di hati

Namun abang sudah Irma maafkan

 

Abang Frank yang Irma kagumi

Saat abang menyatakan cinta tempo hari

Hati Irma amat bahagia

Namun Irma selalu ingat dengan janji kita

Bahwa Irma harus pacaran  pada usia ke 17

Itu juga atas nasehat abang

Karena itulah Irma tak menjawab saat itu

Lalu, ketika abang berjalan dengan gadis lain

Hati Irma teriris

Irma tak mengerti mengapa abang begitu tega.

 

Abang Frank yang Irma sayangi

Selamat jalan

Semoga bahagia bersama dia

Irma selalu mendoakan abang.

 

Dari Irma

 

Frank tersentak. Ia menangis sejadi-jadinya. Dilihatnya rumah kayu bercat hijau. Jendelanya tertutup rapat.. Lalu, ia bertanya pada seorang tukang jahit dekat rumah itu.

“Buk Mala dan keluarga tadi pagi ke Balikpapan. Rumah ini sudah dijual untuk dijadikan Ruko,”tutur si penjahit.

Frank tak kuasa menahan kesedihan. Kakinya  melemah. Ia berjalan menuju kantor  dan langsung masuk ke kamar. Diambilnya bantal, membekap tangisnya yang kian mengencang. Sejak saat itu, ia tak lagi bertemu Irma. Tak ada lagi khabar berita. Itu menjadi kenangan terpahit dalam hidupnya.

****

“Frank, selamat datang. Kok melamun. Sudah lama ya…” seorang pria paroh baya membuyarkan lamunan Frank.

“Iya pak. Duduk di kursi ini mengingatkan saya pada kenangan masa lalu,” jawab Frank, seraya tak melepaskan pandangan dari bangunan ruko di seberang jalan.

“Frank, selamat datang kembali di kantor ini. Saya tahu kamu dari kawan-kawan. Saya juga sudah hubungi Dirut. Kamu diterima kembali bekerja di sini.”

“Iya pak. Waktu mundur dulu, saya bertekad hanya untuk mencari pengalaman. Bahkan, saya juga sudah janji pada kakek saya dulu saat beliau jadi direktur keuangan di perusahaan ini bahwa saya hanya mencari pengalaman.”

“Selamat Frank, meski sudah mapan, ternyata kamu masih mau comeback

“Baik pak. Saya tak lagi mengejar jabatan. Saya berjanji akan bekerja dengan sebaik-baiknya,” Frank berjanji.

Matanya kembali dilayangkan ke depan. Yang tampak tak lagi rumah kayu bercat hijau. Namun  sebuah ruko megah. Ruko itu seolah telah mengubur semua kenangannya. Dengan seorang gadis cantik, manja nan ramah. “Biarlah ku kubur semua,” hatinya lirih. (*)

Proklamasi, 25 Juni 2008

 

 

 

 

 

 

Kategori: 5584

4 tanggapan so far ↓

  • vinnamelwanti // Juli 9, 2008 pada 4:51 am | Balas

    Kisah nyata bang??

    Iya atau bukan? Biarlah menjadi sebuah kenangan, bukan buah sesal.

    Kadang kala, kita selalu saja menyalahkan diri, kenapa tadi tidak berbuat seperti itu, kenapa tadi tidak menjawab seperti ini, kenapa tadi ini dan itu….
    Ada orang yang menyadari, ada pula yang malah berkilah. “What the hell”.

    Katanya, hidup itu memang sudah skenarionya. Kadang jika skenario itu, kita lupa skrip, membuat kita tak jadi pemeran utamanya. Tapi kan gak papa, setidak-tidaknya kita masih punya peran……

    Tapi yang pasti…Cerita ini, bagus bang…Semoga menjadi kisah klasik untuk masa depan, bagi Frank…

  • commpo // Oktober 21, 2008 pada 12:34 am | Balas

    manusia adlh makhluk,dan sudah punya garis yang terkadang kita tak lupa,jangan pernah takut kehilangan dan jangan pula merasa menyesal didatangi,sakit kita sudah pasti obat kita tapi jangan pernah lupa kalau kita hanyalah makhluk,….yang sesal,bahagia,sedih,gembira,duka,lara dan sbagainya hanya dan pasti datang dari dan untuk kita…

  • rumah kayu // November 23, 2008 pada 7:14 am | Balas

    nice artikel…
    thanks ya atas infonya…
    sangat bermanfaat…

  • iie // Januari 13, 2009 pada 8:07 am | Balas

    so…sweeetttt
    jd terharu…
    tp bagus bgt…
    cayoo yach b frank….

Tinggalkan sebuah Komentar