Perjalanan hidup manusia memang sulit diramalkan. Ada yang dulu bercita-cita menjadi dokter justru malah menjadi kuli bangunan. Ada pula yang ingin jadi tentara, kini menjadi satpam dan sebagainya. Begitulah sebagai manusia kita memang bagaikan kapal yang berlayar di tengah lautan yang luas. Meski ada kemudi dan layar sebagai bentuk ikhtiar, namun kita memang tidak bisa menolak takdir sang Ilahi. Lalu, bagaimana kita harus memaknai kehidupan ? Sebuah hadist pernah mengingatkan, “Ingatlah sehat sebelum sakit mu, ingat kaya sebelum miskin, ingat hidup sebelum matimu”.
Ketika kita sadar bahwa kita merupakan makhluk tak berdaya, lalu apa sih yang membuat kita harus menyombongkan diri, serba tahu, serba hebat, dan serba berkuasa ? Entah lah. Sementara orang memang masih terjebak dalam ritual-ritual duniawi yang membuat mereka seolah-polah kekal di dunia. Sementara yang lain larut dalam mencari akhirat.
Ketika takdir menuntut, ketika itu kita memang tak bisa menolaknya. Manakala takdir menyatakan kita sakit, sukses dan bahagia, maka tak seorangpun bisa membatalkannya. Karena itu, sebagai manuasia kita memang tak perlu resah dan gelisah, karena kita sudah memiliki takdir masing-masing.

3 tanggapan so far ↓
sonialis // September 11, 2008 pada 3:58 pm |
(Ketika kita sadar bahwa kita merupakan makhluk tak berdaya, lalu apa sih yang membuat kita harus menyombongkan diri, serba tahu, serba hebat, dan serba berkuasa ? Entah lah. Sementara orang memang masih terjebak dalam ritual-ritual duniawi yang membuat mereka seolah-polah kekal di dunia)
Mantap Pak OKT……… he he he hee….
jefrihendrik // September 14, 2008 pada 5:11 am |
subhanallah…!! pak oktaveri kawan lamo ambo…..mantap bana, bapak memang betul-betul ditakdirkan jadi orang hebat. sukses selalu yo..!
MUSLIM // Oktober 2, 2008 pada 4:46 am |
Tulisan Menarik Bang Okta, dari Bapak Edison Munaf
http://www.padangekspres.co.id
(Kolom; Teras Utama)
Oleh-oleh Untuk Sang Wisudawan
Rabu, 02 April 2008
Oleh : Prof. Dr. Edison Munaf, Guru Besar Universitas Andalas, sekarang bertugas di Tokyo
Bukit Limau Manis memang tinggi, terletak 100 meter diatas permukaan laut. Hampir setiap hari selama lebih kurang 4 tahun dengan setia dilalui dan didaki oleh mahasiswa meretas jalan menuju wisudawan. Namun bagi orang orang yang optimis,…
…pendakian belum lah berhenti, justru hari ini sabtu 5 April, Gedung auditorium menjadi tempat perjalanan awal mendaki bukit yang lebih tinggi, menuruni lembah yang lebih curam, demi meraih puncak cita-cita. Tidak juga berarti menjadi seorang sarjana berarti harus kerja dibelakang meja dan berdasi. Martin Luther King Jr pernah berkata, walaupun anda berprofesi sebagai tukang sapu jalanan, namun bila pekerjaan tersebut dilakukan dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab, maka anda menyapu jalan seperti Michel Angelo melukis, seperti Bethoven mengubah musik atau seperti Shakerpeare menulis puisi, maka hasilnya akan luar biasa. Karena itu lakukan pekerjaan secara bersungguh sungguh.
Tidak ada seorangpun yang bisa menjamin bahwa sukses yang sekarang diperoleh sekarang akan sukses pula selamanya. Demikian juga kegagalan sekarang juga tidaki berarti akan gagal selamanya. Kegagalan akan bisa berbuah kesuksesan jika kita melakukan hal-hal yang kita kuasai dengan baik dan benar, sekecil apapun itu. Karunia Allah tak terbatas bagi siapapun yang mau berusaha meraihnya.
Jika kita mau bekerja keras dengan cerdas dan ikhlas untuk mewujudkan sukses, mengapa membatasi diri dengan memiliki sedikit keinginan. Kesuksesan adalah sesuatu yang benar-benar harus diusahakan, bukan hanya dimimpikan dan menunggu hasil undian. Untuk sampai kepuncak tangga sukses, minimal ada tujuh kunci yang harus dipunyai, yaitu kerja keras, hidup hemat, pantang menyerah, budaya malu, inovasi, budaya baca dan istiqamah.
Kerja keras, Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa, kerja keras lah yang sebenarnya tonggak kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai seperti saat in. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.
Hidup hemat, Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Banyak kaum eksekutif muda yang jalan kaki dari rumah kekantor meskipun jaraknya mencapai 300 meter, para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Selain lebih hemat juga lebih sehat. Banyak juga keluarga muda Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian. Selain lebih cepat juga tidak repot memikirkan tempat parkir.
Pantang menyerah, Lihatlah Singapura dan Jepang, Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat mereka menyerah. Mungkin menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Bacalah kisah Warren Buffett, yang karena kegigihan dan kesabarannya berhasil, menjadi orang terkaya di jagat ini, menggantikan posisi Bill Gates yang sudah 13 tahun terakhir mendominasi daftar orang terkaya. Elbert Hubbart mengatakan, tak ada kemajuan dicapai tanpa semangat. Semangat dapat terus ditingkatkan dengan mengisi setiap detik waktu dengan membaca (belajar), mendengar dan bergaul dengan orang orang positif.
Budaya malu, Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Mereka akan merasa malu jika gagal menjalankan tugasnya. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum. Padahal nilai-nilai itu tidak dimuat dalam hukum positif, (hukum yang berlaku di suatu masyarakat pada waktu tertentu), melainkan sudah hidup dengan sendirinya. Nilai-nilai tersebut menjadi nilai kehidupan yang didorong dan digerakkan dengan dasar etik dan tidak dipaksa berdasarkan peraturan atau hukum. Terjun kedunia kerja setelah menjadi seorang sarjana kadang tidak sebagaimana impian ketika kuliah.
Tidak selamanya lapangan pekerjaan tersedia sesuai dengan bidang keilmuan, bahkan kadang sama sekali berbeda. Karena itu diperlukan kreatifitas dan inovasi. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil melakukan inovasi, mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta Budaya baca, Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia belum menempatkan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi.
Penduduk Indonesia lebih memilih menonton TV (85,9 persen) dan mendengarkan radio (40,3 persen) daripada membaca suratkabar (23,5 persen). Rendahnya budaya dan tulis juga dapat dilihat dari produksi buku di Indonesia yang masih sangat rendah. Setiap tahun Indonesia yang berpenduduk ebih dari 220 juta jiwa hanya memproduksi 10.000 judul buku dengan jumlah setiap judul mencapai 3.000 eksemplar atau tiga juta eksemplar per tahun itupun 55 persen adalah buku terjemahan. Sebagai perbandingan Malaysia yang berpenduduk 26 juta jiwa tiap tahun menghasilkan jumlah buku baru yang sama. Jangan kaget kalau kita lihat Jepang sekarang maju dengan sangat pesat. Dimana-mana, di halte bus, diatas bus, diatas kereta api, jika ada kesempatan mereka akan membaca apa saja, mulai dari buku buku pelajaran, surat kabar hingga ke komik.
Berdasarkan data dari the Japan Newspaper Publisher and Editor Association pada tahun 2005 terdapat 120 harian cetak di Jepang. Jumlah tersebut mencakup edisi pagi dan petang. Dari jumlah tersebut, jumlah rata-rata langganan surat kabar per rumah tangga adalah 94,2%. Angka tersebut merupakan angka terbesar di dunia yang terutama disebabkan oleh literacy rate yang sangat tinggi dari penduduk Jepang, yaitu mencapai 100% bagi orang dewasa. Istiqamah, tidak selamanya hasil yang kita peroleh sesuai dengan usaha dan langkah yang kita lakukan. Sabar dan tawakal merupakan kunci penutup. Tidak selamanya pebuatan dan langkah yang meskipun dilakukan secara bersunggguh sungguh akan berbuah sukses. Sesungguhnya Allah maha tahu dibalik semua itu.
Setiap orang punya kekayaan yang tidak ternilai yang dianugrahi oleh yang maha kuasa kepada kita. Lihatlah pada kedua belah tangan dan kaki serta kesehatan dan umur yang diberikan oleh Allah Swt, bukankah itu merupakan aset yang tak ternilai jika digunakan secara benar. Gunakanlah aset tersebut untuk bekerja dan mengolah sesuatu menjadi lebih benilai tinggi, rubahlah mindset dari hanya sekedar meminta minta dengan bekerja keras. Manfaatkan semua sumber daya yang dipunyai untuk bekerja keras dan mencari peluang peluang kerjasama yang diera digital saat ini terbuka sangat luas sepanjang kita mau dan mampu. Dari pada hanya menjadi sekedar peminta minta. Atau berpangku tangan menungguh pekerjaan datang. Selamat di wisuda dan sukses selalu. Wassalam. (***)