Dalam pergaulan hidup, setiap manusia akan senantiasa dihadapkan dengan romantika yang diwarnai pahit dan manis.
Manakala kepahitan dan kepanikan menerpa hidup, kita harus senantiasa menghadapi dengan tenang dan kesabaran.
Salah satu sikap yang harus ditunjukkan dalam berhadapan dengan manusia lain adalah dengan merendah. Bahkan, di saat konflik yang tidak terhindarkan pun kita harus selalu merenda.
Dalam prinsip Tao disebutkan bahwa kelenturan itu akan mematahkan kekakuan. Suatu yang lentur, lembut, tanpa terasa akan mematahkan watak kaku, kasar, dan kesombongan manusia. Karena itu, perliharalah sifat-sifat mengalah, merendah dan tundukkan kekakuan, kesombongan dan semua arogansi. Tatkala kita mampu menundukkan kesombonan, Insya Allah hidup ini kan senantiasa ringan. Seperti kata Gede Prama, love make us fly.

3 tanggapan so far ↓
sonialis // Oktober 12, 2008 pada 8:48 am |
padi kalau berisi memang selalu merunduk, kecuali pak okt, padi yang berisi itu ada yang menopangnya dengan ranting, maka tegaklah dia terus, tak pernah merunduk…
hennie // Januari 12, 2009 pada 11:46 am |
Sadarilah…bahwa..dihadapan ALLAH…tidak ada yg “meninggi’ atau “merendah”…
semua sama….
Aku lihat di Arafah….seluruh umat manusia berkumpul…dengan pakaian yang sama…tidak ada yang bisa membedakan antara si kaya dg si miskin….
tidak bisa juga membedakan antara bos dg anak buahnya…
so…tetaplah berada dijalanNYA…ingatlah selalu..bahwa apa yang kita dapatkan dan miliki saat ini sesungghnya adalah milik ALLAH dan akan kembali padaNYA. termasuk kita!
oktaveri // April 4, 2009 pada 4:35 am |
how are u