Kerja Cerdas Kunci Sukses

Jamil Azzaini dan Aku

Maret 30, 2009 · 3 Tanggapan

Laki-laki sederhana bermata sayu itu berlari-lari kecil di depan kelas, dihadapan 42 peserta Kursus Dasar Pewarta (Susdape) XV, di Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara, Pasar Baru, Jakarta.

Sesekali ia melompat-melompat, mengikuti intonasi suaranya yang naik turun. Terkadang suaranya meninggi, lalu perlahan-lahan turun, dengan kelopak mata mengecil, mata berkaca-kaca tatkala menceritakan pengalaman masa kecilnya yang menyedihkan.

 “…Kamu harus jadi kerang mutiara naaak. Jangan jadi kerang rebus yang diobral seperti di kampung kita,” kata pria itu menirukan petuah ayahnya sewaktu kecil.

Pria itu bernama Jamil Azzaini, salah seorang inspirator hebat Indonesia saat ini. Ia sukses dalam kariernya, mengembangkan PT.Kubik Kreasi Sisilain, di samping menjadi dosen Pascasarjana di IPB.

Bersama kakaknya, ia mendirikan sekolah murah di Provinsi Lampung, dengan jumlah siswa saat ini 1000 orang.

Ia aktif bergerak memutus rantai kemiskinan dengan mendirikan pesantren wirausaha, menginisiasi dan mendampingi berbagai usaha kecil serta lembaga pemberdayaan masyarakat.

Sebagai seorang inspirator laris, ia sering diundang untuk memberikan motivasi di berbagai lembaga seperti Bank Indonesia, Bank Mandiri, BRI, BCA, BNI, Bank Niaga, Perusahaan Gas Negara, Askes, Jiwasraya, Jasa Rahardja, AIG Life, Bakrie& Brothers, Holcim, Pupuk Kaltim, dan Toyota. Ia juga kerap diundang memberikan training ke luar negeri seperti Brunai Darussalam, Philipina, Hongkong dan Makao.

Bersama Eri Sudewo dan kawan-kawan, Jamil mendirikan dan membesarkan Lembaga Dompet Dhuafa Republika yang mendapat pengakuan dunia internasional.

Mendirikan Baitul Maal wa Tamwil (BMT) yang pada awalnya hanya bermodalkan jutaan rupiah, kini asetnya triliunan rupiah. Ada program rumah sakit cuma-cuma, sekolah berkualitas yang menampung anak-anak cerdas namun tidak mampu dari seluruh Indonesia.

 Ada juga program masyarakat mandiri, pertanian, sehat, tebar hewan kurban dan lain sebagainya.

Ia juga punya obsesi untuk menginspirasi dan mendorong 5 juta orang untuk menjadi SuksesMulia, melalui Gerakan SuksesMulia yang digalangnya. Berbagai kesuksesan yang diraih Jamil saat ini, sangat kontras dengan apa yang dialaminya sewaktu kecil.

 Ia pernah mengalami masa-masa pahit dengan berbagai kepedihan hidup. Lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 9 Agustus 1968, Jamil kecil hidup dalam sebuah keluarga yang sangat berkekurangan, di daerah transmigrasi di Lampung.

 ”Kami sekeluarga tinggal di gubuk di tengah hutan, di Rejomulyo, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan, hingga duduk di kelas 4 SD,” cerita Jamil, terbata-bata dengan sara parau.

Gubuk panggung itu terbuat dari bambu. Atapnya berselimutkan ilalang, dan lantainya dari bilahan bambu.

Di sanalah Jamil kecil, dibesarkan orangtuanya. ”Di depan gubuk kami mengalir sungai kecil yang jernih. Di sungai itulah, setiap hari saya, adik, dan kakak mandi. Bukan hanya mandi, sungai itu juga menjadi sumber lauk-pauk kami,” ucap Jamil.

 Salah satu pengalaman yang tak terlupakan Jamil adalah ketika memancing di rawa. Saat itu bapaknya datang menghampiri dan duduk di sebelahnya.

”Mil bapak mau bercerita, kamu mau mendengar?” Jamil mengangguk. ”Kamu tahu proses terjadinya mutiara,” tanya bapaknya.

Jamil menggeleng. Sambil merangkul pundak Jamil, bapaknya melanjutkan cerita; ”Waktu kerang muda mencari makan atau bergerak untuk pindah, ia akan membuka cangkang penutup badannya. Buka… tutup… buka… tutup. Nah suatu kali, di saat cangkah itu terbuka, sebutir pasir masuk ke dalam cangkang kerang itu.

 Sang kerang pun menangis sambil memanggil-manggil ibunya.

 ”Bu sakit bu… ada pasir masuk ke dalam tubuhku.

” Sang ibu menjawab,” Sabar nak, jangan pedulikan rasa sakit, bila perlu berikanlah kebaikan kepada pasir yang telah menyakitimu. Kerang muda itu menuruti nasehat ibunya.

 Ia menangis, tapi air matanya digunakan untuk membungkus pasir yang masuk ke dalam tubuhnya itu. Hal itu terus-terus ia lakukan.

Dengan baluran air mata itu, rasa sakitnya pun berangsur berkurang. Bahkan kemudian hilang sama sekali. Beberapa saat kemudian kerang-kerang itu dipanen.Kerang yang ada pasirnya dipisahkan dari kerang yang tidak ada pasirnya.

Kerang yang tidak ada pasir dijual secara obral di pinggir jalan menjadi kerang rebus. Sedangkan kerang yang berpasir dijual ratusan bahkan ribuan kali lipat lebih maha dari kerang tidak berpasir.

Mengapa bisa begitu? Karena pasir di dalam kerang itu sudah berubah menjadi inti mutiara.

Ya butiran pasir itu telah dibalut dengan lapisan air mata menjadi mutiara” Bapak Jamil melanjutkan,”Kalau kamu tidak pernah mendapatt cobaan, kamu akan menjadi seperti kerang rebus atau kerang yang tak ada harganya.

Tapi kalau kamu mampu menghadapi cobaan, bahkan mampu memberi manfaat pada orang lain ketika kamu sedang mendapat cobaan, kamu akan menjadi mutiara”. ”Jamil, kamu memilih menjadi apa? Kerang rebus atau kerang mutiara?”tanya bapaknya lagi.

 ”Kalau kamu memilih menjadi kerang rebus kamu akan dijual secara obral di pinggir jalann. Sebaliknya, kalau memilih menjadi mutiara, kamu akan berada di tempat-tempat terhormat dan juga dipakai oleh orang-orang terhormat. Hargamu mahal.

Hidup adalah pilihan Mil… Terserah kamu. Kamu boleh pilih mau jadi kerang rebus atau jadi kerang mutiara.

Kamu pilih jadi kerang apa?”

 ”Aku memilih menjadi kerang mutiara Pak,” jawab Jamil.

 ”Nah, kalau kamu memilih menjadi kerang mutiara, kamu tidak boleh cengeng karena kita tinggal di tengah hutan. Kamu tidak boleh sedih setiap kali mau berangkat sekolah,”pesan bapaknya.

Cerita kerang itu benar-benar memengaruhi hidup Jamil setelah itu. Bahkan, cerita kerang rebus dan kerang mutiara itu menjadi pelipur lara Jamil tatkala menghadapi kesedihan.

Pernah tangan Jamil diludahi teman-teman di sekolahnya karena bau getah akibat menakik getah di hutan karet.

 Kepala Jamil pernah dilempar bambu hingga berdarah oleh teman sekolah hanya gara-gara Jamil menyatakan ingin menjadi insinyur pertanian, saattampil di depan kelas.

Kisah itu juga menjadi penguat tekad Jamil tatkala sang bapak menangis dihina orang terkaya di kampungnya gara-gara ingin meminjam uang untuk biaya kuliah Jamil di IPB.

 ”Kalau nggak punya uang ya nggak usah panjang angan-angan. Sudah tahu miskin, nggak punya uang lha kok mau kuliah. Baru mau berangkat kuliah saja sudah minjam. Bagaimana nanti biaya bulanannya? Apakah bertahun-tahun mau pinjam terus?” begitu, hinaan orang terkaya di kampung Jamil.

Di tengah berbagai hinaan dan cobaan yang dihadapinya, Jamil sukses mencapai cita. Ia berhasil menuntaskan pendidikan S1 dan S2 di IPB.

 Ia bisa melampui cita-citanya waktu dulu, menjadi insinyur pertanian. Ia kini menjadi inspirator jutaan orang melalui gerakan SuksesMulia yang dikembangkannya, dan menjadi konsultan perusahaan-perusahaan bonafit.

Kepada audiennya, Jamil selalu memprovokasi agar membuat proposal hidup. Proposal hidup katanya, amat penting dalam menuntun menggapai prestasi tertinggi yang bisa dibanggakan di hadapan Allah.

 “Saya yakin setelah Anda menyusun proposal hidup dengan detail, kehidupan Anda di masa datang akan jauh lebih baik daripada Anda tidak menyusunnya,” kata Jamil. Untuk menyusun proposal hidup, Jamil membagi berbagai tip yang selama ini sudah diterapkannya.

Pertama, masing-masing orang adalah masterpiece yang tiada duanya. “Anda benar-benar spesial, karena satu-satunya di muka bumi ini. Tidak ada satupun makhluk hidup yang sama persis dengan Anda. Tuhan benar-benar menciptakan Anda spesial, karena itu harga Anda tentu super mahal,” katanya.

Tip kedua, tetapkan prestasi terbaik yang ingin diraih.”Tulislah prestasi apa yang hendak Anda tinggalkan di muka bumi. Tulislah prestasi terbaik, bukan pencapaian-pencapaian materi. Prestasi terbaik itu adalah prestasi tertinggi yang akan Anda raih di usia puncak kehidupan Anda, bukan prestasi kecil dan jangka pendek,” jelasnya.

Tip ketiga, jadilan seorang expert (ahli). Expert yang akan dikembangkan harus sejalan dengan prestasi terbaik yang akan dicapai.

 ”Jangan serakah ingin menguasai semua karena itu tidak akan menjadikan Anda expert di bidang apapun,” sarannya. Untuk menjadi seorang expert, Jamil menyarankan agar setiap orang bisa mencurahkan waktu untuk meningkatkan kemampuan.

Sebab, keahlian bisa dicapai dengan melakukan latihan secara terus menerus. Selain itu, Jamil meminta agar mencari guru expert, spritual dan kehidupan.

”Carilah guru yang tepat, karena tidak mungkin Anda ahli di bidang sepakbola kalau dilatih guru kesenian yang tidak mengerti sepakbola,” ulasnya.

Jamil juga menyarankan agar bersahabat dengan orang yang mendukung.”Anda harus memiliki teman-teman yang selalu menyemangati, menginspirasi, dan mendukung Anda,” ujarnya.

Kemudian kata Jamil, ”Jadikan lima orang sahabat Anda sebagai kelompok mastermind. Filosofinya sederhana, dua kepala lebih baik dari satu kepala dalam memecahkan masalah atau menciptakan hasil,” katanya. Kelompok mastermind ini, lanjut Jamil, harus berasal dari profesi yang berbeda.

Tip lainnya, sempurnakanlah hidup Anda sekarang ini dan sempurnakan lingkungan Anda. Intinya, Jamil ingin mendorong setiap orang bisa menebar kemuliaan kepada sesama.

Mereka yang mendengar ceramah Jamil seakan dibawa larut dalam emosi yang bercampur aduk. Ada rasa simpati terhadap penderitaan yang dialaminya, dan juga dorongan untuk meraih prestasi puncak. Jamil seorang orator ulung.

Ia mampu mengundang berbagai emosi, dalam tragedi, komedi, dan sebuah spirit yang didasarkan contoh hidup tokoh-tokoh sukses. Selain menceritakan pengalaman hidupnya yang getir yang membuat sebagian audiens bisa menitikkan mata, tak terkecuali sahabat karibnya, Ahmad Mukhlis Yusuf (Dirut Perum LKBN ANTARA).

Pemaparan Jamil Azzaini mampu merangsang imajinasi banyak orang yang mendengarnya. Seakan kita dibawa melayang-layang menuju sebuah titik, yang ingin kita capai di masa datang.

Semuanya terasa mudah, dan mengkristal di dalam hati bahwa kita juga bisa sukses. Asa yang dulu hanya berupa serpihan-serpihan kecil, kini menjadi satu, menunjukkan sebuah fokus yang jelas.

Bagi saya pribadi, mengenal latar belakang kehidupan Jamil Azzaini, seakan menghadirkan kembali masa lalu. Kami memiliki banyak kesamaan pengalaman masa kecil.

Ya, kami sama-sama hidup di gubuk yang terpencil, terlahir dari orangtua yang sangat miskin, dan mengalami banyak hinaan dan cobaan hidup. Jamil dan juga saya, sama-sama juara di sekolah. Bedanya, Jamil pernah tinggal kelas di SD, saya tidak pernah. Saya adalah pemegang tetap juara 1 di SD. Begitu pula di SMP, ranking terendah saya hanya juara II, selebihnya juara I.

Soal kepedihan hidup, saya pernah merasakan menjadi penjaja makanan keliling, penjual kantong plastik di pasar, petani pengolah sawah, buruh upahan yang memuat pasir ke atas truk, penggali pipa PDAM, pesuruh kantor, dan pernah menjadi tukang sapu.

Dalam hal pendidikan, saya juga tak jauh beda dengan Pak Jamil. Saya membiayai sendiri pendidikan S1 dan S2. Namun, soal nasib dan pencapaian karier, Jamil Azzaini memang memiliki kelebihan. Ia telah merancang proposal hidupnya, sejak belia.

Ia seorang tokoh sukses, mampu menghasilkan karya nyata (tidak hanya sekedar teori dan cerita), Jamil menginspirasi banyak orang, dan menebar kebaikan kepada sesama. Jamil benar-benar ingin menjadi sosok mulia ketika nanti berpulang keharibaan

Sang Khalik. Untuk hal yang terakhir ini, saya masih kerdil. Ya Allah, berilah hamba Mu kekuatan untuk menjadi insan yang mulia, yang mampu menabur kebajikan dalam kehidupan di dunia. Amin.

                                                                                                    Pasar Baru, 29 Maret 2009

Kategori: Artikel

3 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar